PSKD MANDIRI TEACHERS’ NOTE

Education for the future

Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan

Posted by teachersnote on August 6, 2009

Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan

Oleh: Sutarsih

1. Autisme dan Kesenyapan

Umumnya anak penyandang autisme cenderung pendiam. Manakala berada di tengah-tengah mereka, jangan berharap mendengar suara atau gurauan mereka. Senyap itulah yang didapatkan saat para penyandang autisme sedang berkumpul walau pada suasana santai sekalipun. Walau ada penyandang autisme yang cenderung suka berbicara, tetapi apabila didengarkan secara saksama, akan diketahui bahwa apa yang dibicarakan itu semacam “igauan” saja, bukan bahasa bermakna. Mereka hanya mampu mengulang-ulang kata yang didengarnya (membeo). Lebih-lebih mereka yang belum mendapat pendidikan dan latihan, mereka bisa diibaratkan sebagai anak-anak “aneh” yang sulit disentuh dengan bahasa. Kondisi ini sangat memrihatinkan mengingat bahasa adalah sarana komunikasi untuk menjalin interaksi sosial, tidak terkecuali bagi penyandang autisme. Mereka pun membutuhkan bahasa untuk mengungkapkan rasa, cipta, dan karsanya.

Keterbatasan kemampuan berbahasa mengakibatkan mereka menjadi terasing dari orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Keterasingan dan ketidakberdayaan mereka ini kadang memunculkan reaksi yang mungkin bagi orang di sekitarnya terasa tidak lazim. Hal ini disebabkan pengekspresian ketidaksesuaian respon yang diharapkan diwujudkan dalam bentuk ungkapan emosi seperti, menangis; marah; memukul-mukul; dan mondar-mandir.

1.1 Definisi Autisme

Kondisi penyandang autisme kiranya sesuai dengan definisi autisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) Edisi Ketiga tahun 2003 yang menyatakan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (2003:77). Definisi tersebut didukung dengan pendapat Peeters yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental (2004:14).

Karena mereka hanya mengalami gangguan perkembangan, kemampuan berbahasa bisa diterapkan dan dilatih. Karena autisme juga bukan penyakit mental, tentunya anak penyandang autisme tidak seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa. Orang tualah pemegang kunci pertama pengenalan dini pada anak penyandang autisme agar tidak terjadi kesalahan penanganan yang dapat memperparah kondisi dan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, penting sekali penanganan dini bagi anak-anak autistik (Hadriami, 2002:151-152).

1.2 Ciri-ciri Autisme

Anak-anak penyandang autisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut.

1. Interaksi sosial, bahasa yang dipergunakan dalam perkembangan sosial.

2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial.

3. Permainan simbolik atau imajinatif (Peeters, 2004:2).

Adapun ganggguan kualitatif dalam berkomunikasi menurut Peeters ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari keadaan berikut.

1.      Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gesture atau mimik muka sebagai alternatif dalam berkomunikasi).

2.      Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.

3.      Penggunaan bahasa yang repetitive (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).

4.      Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya (2004:1).

Berikut ini bagan perbedaan antara perilaku bayi autisme dan bayi normal yang dikemukakan oleh Bambang Hartono dkk. dalam Sultana M.H. Faradz dkk (2002:107).

Bayi Autisme Bayi Normal
Komunikasi Komunikasi
§   Tidak ada kontak mata. §     “Menyelidiki” wajah ibunya.
§   Seperti tuli. §     Gampang bereaksi terhadap bunyi.
§   Pada awalnya bahasa berkembang lalu mendadak berhenti. §     Kamus kata dan kemampuan    gramatikalnya bertambah.
Hubungan sosial Hubungan sosial
§   Tak peduli terhadap orang yang datang maupun pergi. §     Menangis bila ibunya pergi dan “stres”.
§   Melakukan serangan fisik tanpa sebab yang jelas. §     Marah bila lapar dan kecewa.
§   Sulit diajak kontak. §     Mengenal wajah yang telah akrab lalu tersenyum.
Kemampuan dalam bereaksi terhadap lingkungan Kemampuan dalam bereaksi terhadap lingkungan
§   Selalu terpaku pada satu aktivitas. §     Berpindah dari kegiatan satu ke lainnya.
§   Melakukan gerakan aneh seperti menggoyang-goyang benda berulang-ulang. §     Menggunakan anggota tubuhnya secara bermakna, seperti meraih objek atau mendapatkan benda.
§   Menghisap atau menjilat boneka. §     Bermain dengan boneka.
§   Seperti tidak sensitif terhadap nyeri. §     Mencari kepuasan dan menghindari nyeri.

2. Penyusupan Bahasa pada Penyandang Autisme

Apabila melihat bahwa anak-anak autistik memiliki kecerdasan yang bervariasi, bahkan dikatakan bahwa sebagian besar mengalami keterbelakangan mental, terapi dapat disesuaikan dengan kemampuan mereka mencerna pelajaran. Oleh karena itu, sebelum melakukan terapi bahasa, perlu mengetahui intelegensi dan kemungkinan seberapa jauh mereka akan mampu menguasai materi pendidikan serta mengetahui dan mengelola perilaku autistik yang mengganggu.

Masalah yang dimiliki anak-anak penyandang autisme saat mempelajari kata-kata sederhana adalah begitu banyak kalimat mereka memiliki ciri ekolali (membeo/mengulang kata) dan mengapa penggunaan bahasa mereka sering tidak memiliki kreativitas dan daya cipta, dan membatasi diri pada pengulangan kalimat yang telah diucapkan orang lain (Peeters, 2004:66). Namun demikian, bahasa harus menjadi bagian dari diri penyandang autisme. Mereka harus mengenal dan menguasai bahasa agar dapat berinteraksi sosial. Oleh karena itu, pada para austistik masalah pemaknaan dan pemahaman tentang makna benda-benda, kejadian, dan orang lain harus dihadirkan lebih dahulu (Peeters, 2004:19). Selain itu, perlu untuk memahami “lebih dari persepsi literal/tanggapan harfiah” (Peeters, 2004:29). Hal ini disebabkan para penyandang autisme sangat kesulitan untuk memahami sesuatu yang bersifat abstrak. Mereka tidak akan mengerti tentang norma, ketuhanan, dan rasa. Oleh karena itu, lebih mudah menyusupkan pada diri mereka kata-kata yang bersifat konkrit.

Tentu saja penyusupan bahasa pada penyandang autisme tidak langsung dengan mempelajari bahasa berupa kalimat lengkap. Dengan demikian, perlu adanya tahapan-tahapan dalam mengembangkan bahasa. Tahapan-tahapan perkembangan bahasa selalu dimulai dengan kalimat satu kata atau holoprase yang telah mencerminkan suatu hubungan konseptual (Mar’at, 2005:58). Dari segi bahasa tulis, pelekatan bahasa dimulai dengan pengenalan seluruh abjad alfabet. Kemudian berlanjut pada penyukuan yang terdiri atas dua huruf (gabungan huruf vokal dan konsonan). Setelah itu, penggabungan penyukuan atau pengulangan penyukuan yang dikaitkan dengan pemahaman makna benda-benda, kejadian, dan orang lain.  Hingga pada akhirnya pengenalan kata dan tanda baca. Begitu tahap berikutnya telah dirambah, tahap sebelumnya tetap dimunculkan kembali. Cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus untuk mengetahui daya konsentrasi dan pemahaman penyandang autisme terhadap bahasa.

Merasuknya bahasa pada diri penyandang autisme diawali dengan kontak mata. Kontak mata sangat perlu agar perhatian penyandang autisme terfokus dan mereka mengenal lawan bicara. Dari kontak matalah dapat diketahui kesiapan penyandang autisme untuk dirasuki bahasa dalam bentuk rentetan kata-kata bermakna. Setelah kontak mata, tahap selanjutnya adalah kontak fisik. Lewat sentuhan dan rabaan, penyandang autisme dikenalkan pada benda dan kata, situasi dan kata, atau tempat dan kata. Sentuhan fisik disertai dengan pelafalan kata sangat penting untuk meningkatkan pemahaman penyandang autisme terhadap makna suatu kata.

Kesuksesan bahasa menyusup ke diri penyandang autisme sangat ditentukan oleh kemampuan penyandang autisme tersebut berkonsentrasi. Mempertahankan konsentrasi merupakan latihan terberat bagi penyandang autisme. Konsentrasi bisa dibangun dengan cara menyadarkan mereka pada apa yang harus dikerjakan. Penyadaran ini dapat dilakukan dengan cara memanggil nama mereka secara berulang-ulang dengan suara nyaring, sentuhan, memberikan atau menunjukkan hal-hal atau benda-benda yang disukai, dan pemaksaan.

Hal yang perlu diingat selama proses menjalin terapi bahasa ini adalah tidak menirukan kata-kata penyandang autisme; walaupun sekadar ekolali, karena hal ini bisa memancing amarah dan merusak konsentrasi penyandang autisme. Selain itu, terapi sebaiknya dilakukan secara individual dalam suatu ruang tertutup sehingga perhatiannya tidak mudah terpecah.

3. Bahasa dan Autisme

Para penyandang autisme dianggap sudah mampu berbahasa jika sudah bisa diajak berbicara dan mampu menulis. Walaupun apa yang dikatakan atau ditulis itu sebatas hanya memenuhi tuntutan yang ditujukan pada dirinya atau kata-katanya terbatas kata-kata kunci yang dianggap cukup memenuhi keinginan lawan bicaranya.

Memang ada penyandang autisme yang memiliki IQ melebihi anak normal. Bahkan, ada penyandang autis yang menduduki peringkat teratas mengalahkan anak normal di sekolah umum. Ini dikarenakan otak kanan mereka masih normal. Pada anak-anak autistik ini seringkali diharapkan memiliki suatu kepandaian istimewa. Sesungguhnya anak penyandang autisme yang memiliki intelegensi tinggi (IQ lebih dari 70) hanya sekitar sepertiga dari seluruh penyandang autisme. Semakin tinggi intelegensinya dan semakin besar kemampuan komunikasinya maka semakin besar kemungkinannya mengikuti pendidikan umum bersama anak-anak normal. Integrasi semacam itu sangat bermanfaat bagi anak tersebut karena dia banyak memeroleh kesempatan belajar bersosialisasi dengan orang lain. Bagi anak-anak autistik yang memiliki kemampuan intelegensi semakin rendah, dia bisa dipersiapkan untuk mengikuti program pendidikan yang secara prinsip sama dengan anak-anak tunagrahita dengan intelegensi setara. Namun, harus diingat bahwa anak penyandang autisme memiliki keterbatasan atau gangguan lain yang sangat perlu diperhatikan, seperti komunikasi, sosialisasi, gangguan memfokuskan perhatian, ada juga yang hiperaktif, dan sebagainya. Maka selain program yang sesuai dengan tingkat intelegensinya, perlu penyesuaian program dengan gangguan autistiknya dan akhirnya metode pelaksanaan program pun harus disesuaikan. Justru di situlah keunikan pendidikan anak penyandang autisme. Misalnya seorang anak penyandang autisme memiliki IQ 65, tetapi komunikasi hampir tidak ada, dia perlu program khusus dan penanganan terpadu seperti misalnya melibatkan terapis wicara (Hadriami, 2002:152).

Akhirnya sampailah pada suatu simpulan bahwa melalui terapi wicara, kemampuan penyandang autisme bisa digali. Terapi wicara yang merupakan metode pembelajaran bahasa tersebut tidak hanya mengenai belajar bahasa lisan, tetapi juga bahasa tulis. Keberhasilan terapi wicara tampak dari kemampuan penyandang autisme mengemukakan pengetahuan yang telah dicerapnya melalui bahasa lisan atau bahasa tulis.

Berpijak dari uraian di atas, yang perlu diperhatikan dalam menghidupkan bahasa pada penyandang autisme adalah perlunya penanganan yang tepat dan pengenalan gejala autisme sejak dini sehingga para penyandang autisme dapat dibantu menemukan bakat dan kemampuannya agar dapat mandiri menopang kehidupannya di masa yang akan datang. Selain itu, perlu menjalin komunikasi dan interaksi dengan penyandang autisme secara terus-menerus.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam menjalin komunikasi dengan penyandang autisme, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.

1.   Keteraturan melakukan suatu kegiatan berdasar tempat dan waktu yang sama setiap harinya.

2.   Menghadirkan benda-benda sebagai alat komunikasi yang dapat dipahami: benda-benda tertentu sebagai penanda suatu kegiatan yang dilakukan.

3.   Mengomunikasikan informasi mengenai “di mana” dan “kapan” dengan cara yang mereka mengerti sehingga kita membuat hidup mereka lebih bisa diduga (hanya masalah penyederhanaan sopan santun).

4.   Mengusahakan kontak mata sesering mungkin dan memahami  kebiasaan dan kebisaannya.

5.   Melatih konsentrasi selama mungkin secara terus-menerus.

6.   Mengajarkan kata sederhana untuk mengungkapkan suatu maksud secara berulang-ulang.

7. Tega, memaksa, dan tidak mudah terpengaruh oleh penolakan yang dilakukan saat diajak berkomunikasi.

8. Mendorong ekspresi dan penggunaan perasaan serta pendapat.

9. Menumbuhkan kemampuan berpikir logis.

10. Membiasakan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Hadriami, Emmanuela. 2000. “Pendidikan untuk Anak Tunagrahita dan Autisme”. Dalam Seminar & Workshop: on Fragile-X Mental Reterdation, Autism and Related Disorders. Editor Sultana M.H. Faradz dkk. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hartono, Bambang, dkk. 2002. “Masalah-masalah Neurobehaviour pada Autisme Infantil”. Dalam Seminar & Workshop: on Fragile-X Mental Retardation, Autism and Related Disorders. Editor Sultana MH Faradz, dkk. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.

Peeters, Teo. 2004. Autisme: Hubungan Pengetahuan Teoretis dan IntervensiPendidikan bagi Penyandang Autis. Jakarta: Dian Rakyat.

Tim Redaksi KBBI Edisi Ketiga. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: