PSKD MANDIRI TEACHERS’ NOTE

Education for the future

Selalu Membuat Anak-anak Senang

Posted by teachersnote on November 23, 2008

arif-rahmanDunia pendidikan sudah melekat dalam diri Arief Rachman. Hampir seluruh hidupnya diabadikan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Dosen teladan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) ini adalah satu dari sekian banyak guru yang mendedikasikan dirinya untuk mengajar.

Namun, Arief tidak sekadar mengajar. Guru bahasa Inggris itu juga berusaha mendidik para muridnya menjadi manusia paripurna. Tidak hanya berilmu, tapi juga berakhlak. Sesuatu yang sulit kita temukan saat ini.

Sayangnya, tuntutan terhadap guru yang begitu besar tidak diimbangi dengan imbalan yang setimpal. Masih banyak guru yang terpaksa bekerja serabutan, sekadar untuk menjaga asap dapur tetap mengebul. Rendahnya gaji guru dan tingkat kesejahteraan yang minim, menurut Arief, adalah salah satu dampak buruknya manajemen pendidikan di Indonesia.

Bagi Arief, 64 tahun, profesi guru adalah pengabdian. Ia prihatin dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak didiknya. Belakangan ini memang banyak kabar tak sedap menyangkut perilaku para guru. Bulan lalu, ada guru yang melempar muridnya dengan batu hingga tewas di Gowa, Sulawesi Selatan. Pekan lalu, seorang guru sekolah dasar di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan telah menyodomi sekitar 30 murid. “Karena itu, saya marah betul kepada guru yang melecehkan anaknya. Anda pikir guru itu semuanya suci? Tidak! Ada yang menerima uang sogok, ada yang sexually abnormal,” kata Arief.

Rabu siang dua pekan lalu, Arief menerima wartawan Tempo, Dewi Rina, dan fotografer Ayu Ambong untuk sebuah wawancara khusus di ruang kantornya yang dipenuhi benda seni dari seluruh Indonesia. Arief bercerita banyak tentang nasib guru dan wajah pendidikan di Indonesia.

Dengan gaya bertutur yang menggebu, Arief menjawab setiap pertanyaan dengan tangkas. Wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu, dia meluncur pergi untuk menghadiri rapat lain yang sudah menunggunya siang itu. Berikut ini petikannya.

Apa tugas dan fungsi seorang guru?

Guru adalah pelaksana dari semua konsep pendidikan yang ada. Apakah dia guru di sekolah formal atau nonformal. Tugasnya memindahkan dan membentuk, to transfer and to transform, semua ilmu pengetahuan yang harus disampaikan kepada anak-anak. Guru-guru ini harus memenuhi tiga persyaratan yang berhubungan dengan moral guru. Guru harus mempunyai kepribadian yang unggul, tidak boleh mengeluh di dalam kelas, tidak boleh bersifat tidak stabil, seperti takut, murung, tegang, dan pemarah. Guru itu harus hangat dan harus sejuk.

Tuntutan kepada guru begitu tinggi, tapi mereka kan manusia biasa yang memiliki beragam persoalan hidup?

Bagaimanapun, kalau dia mengemban profesi guru, dia tidak bisa seperti itu. Dia harus sabar. Sikap-sikap yang dia miliki harus betul-betul taat kepada Tuhan. Guru itu juga harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadai. Dan itu harus dia kembangkan dalam gaya yang bisa merangsang anak supaya anak bisa memiliki kemampuan berpikir yang mengerucut ke satu titik dan membuka pada semua arah. Harus bisa konvergen dan divergen. Kalau guru hanya konvergen, nantinya dia akan membuat soal seperti ini, tapi jawabnya harus A, tidak boleh B atau C. Padahal dalam hidup banyak pilihan. Yang terakhir, seorang guru itu harus mempunyai metodologi yang menarik.

Metode mengajar seperti apa yang menarik?

Kelas di Indonesia tidak kecil, rata-rata satu kelas ada 40 anak. Ada yang sampai 60, ada yang tiga kelas dijadikan satu. Seorang guru harus menemukan metode yang tepat untuk situasi kelas tertentu. Dia tidak melayani anak seperti membuat baju ukuran besar, sedang, dan kecil. Tiap anak punya ukuran macam-macam. Ada anak yang cepat mengerti jika diajak bicara, ditunjukkan gambar-gambar, disuruh bergerak. Jadi pendekatan kepada anak itu berbeda-beda. Dan ini yang membuat menarik profesi guru ketimbang profesi lain.

Pengalaman Anda ketika mengajar seperti apa?

Saya, yang mengajar sejak 1964, selalu membuat anak-anak senang. Dalam evaluasi anak-anak selalu meminta supaya guru itu merangsang, bergairah, humoristik, dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berpendapat. Guru mempunyai target dan dia harus menemukan metode untuk menyelesaikan semua materinya itu untuk anak yang sekian banyak dengan cara yang paling menarik. Tiap daerah pasti berbeda-beda. Padahal gaji guru di Indonesia sangat sedikit.

Bagaimana guru menghadapi beragam tuntutan dengan gaji yang sedikit itu?

Saya sering berkata kepada guru-guru, kalau kamu tidak siap menerima uang kecil, jangan jadi guru. Sebab, nanti akan mempengaruhi diri kita. Kita kan nggak bisa gembira kalau hanya uangnya banyak. Mungkin rata-rata pendapatan guru di Indonesia hanya Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.

Dengan gaji yang kecil itu, banyak guru yang akhirnya bekerja di tempat lain. Apakah itu mempengaruhi kualitas guru?

Memang tidak ideal. Dia tidak akan punya kesempatan untuk mengadakan penelitian atau membaca buku baru. Pemerintah sudah memberikan standar untuk guru, tapi saya juga menuntut standar kesejahteraan untuk guru. Misalnya, di beberapa sekolah, guru bisa makan gratis. Itu berarti komisi sekolahnya bekerja dengan baik. Mereka melihat guru menjadi tulang punggung keberhasilan pendidikan. Bukan pada kepala sekolah, fasilitas, buku, atau murid yang sudah kaya. Mereka juga punya tugas dalam proses belajar-mengajar untuk membentuk anak itu memenuhi lima syarat.

Syarat apa saja yang bisa menjadi indikator suksesnya pendidikan?

Sukses pendidikan bila murid itu memenuhi lima syarat. Pertama, anak harus bertakwa dan berakhlak mulia. Itu bukan tugas guru agama, melainkan semua guru. Kedua, anak harus berkepribadian baik dan berakhlak mulia. Dia harus mempunyai kepercayaan dan memiliki kepribadian unggul. Maksudnya, semangat, teliti, tekun, tidak menyerah, dan senang mengadakan eksplorasi. Anak juga harus mempunyai ilmu pengetahuan yang mutakhir, senang membaca, membuka website, serta senang membuka Internet dan berkomunikasi dengan teman-temannya dari seluruh dunia. Lalu yang keempat, dia harus mempunyai rasa kebangsaan, harus mempunyai semangat nasionalisme. Terakhir, anak harus berwawasan global dan siap berkompetisi.

Apa saja yang harus dilakukan oleh guru untuk membentuk murid yang memenuhi lima syarat itu?

Ini tugas lembaga-lembaga pencetak guru, seperti IKIP, yang sekarang menjadi universitas. Lembaga-lembaga ini harus menggodok para calon guru seperti yang saya katakan tadi. Lembaga-lembaga itu hanya mengedepankan mata pelajarannya.

Berapa jumlah guru di Indonesia saat ini?

Sekitar 2,1 juta orang.

Berapa jumlah ideal untuk Indonesia?

Bayangkan, kita mempunyai 41 juta anak dari TK sampai SMA. Lalu guru cuma ada 2,1 juta. Jadi satu guru kalau dirata-ratakan bisa menangani sampai 200 anak. Ini tidak mungkin. Tapi di Indonesia pendidikan berjalan dengan baik. Kenapa? Karena belum pernah saya dengar ada sekolah yang tutup. Walaupun terbentur masalah ekonomi, belum ada sekolah yang tutup. Ini karena ada dedikasi dan kecintaan guru terhadap pekerjaan.

Apa dampak dari keterbatasan itu?

Karena keterbatasan-keterbatasan yang ada, pendidikan nasional yang berkembang di Indonesia belum memenuhi tujuan pendidikan, yaitu kelima syarat tadi. Yang dikerjakan hanya mencerdaskan otak. Saya sering bilang kepada guru-guru, bagaimana kalau kita sederhanakan tiga kekuatan pada manusia–akal, perasaan, dan iman–ini untuk dikembangkan. Bagaimana guru harus menjadi suri teladan. Karena itu, saya marah betul kepada guru yang melecehkan anaknya. Anda pikir guru itu semuanya suci? Tidak! Ada yang menerima uang sogok, ada yang sexually abnormal.

Jakarta termasuk provinsi yang kelebihan guru, sedangkan banyak daerah yang kekurangan. Apakah ini masalah pendistribusian yang kurang baik?

Tidak juga. Ada beberapa daerah yang pengelolaan pendidikannya sudah mulai baik, seperti Jakarta, Jembrana, dan Kutai.

Apakah pola pengelolaan pendidikan seperti di ketiga kota ini bisa diterapkan di daerah lain?

Pasti bisa. Memang ada beberapa kabupaten dan kota yang kering uangnya. Di sini gunanya gubernur. Dia harus membentuk yang namanya cross funding, dana suntikan dari yang kuat kepada yang lemah. Saya tanya mana yang lebih kuat, bagian utara atau selatan Jakarta, dalam hal keuangan? Jawabnya adalah selatan. Tapi adakah uang di daerah selatan dibawa ke utara? Gubernur harus turun tangan.

Mungkinkah daerah yang kelebihan guru menyumbang ke daerah lain yang kekurangan?

Bisa. Ini kan negara berdaulat. Dulu guru-guru lulusan Jawa Barat bisa dilempar ke Papua. Sekarang tugas Departemen Pendidikan yang mengurusi guru-guru. Jangan sampai semuanya berkumpul di Jakarta. Harus bisa menyebar.

Apakah itu sudah mulai dilakukan?

Belum semuanya dilakukan dan itu seharusnya bisa dilakukan.

Mengapa langkah ini tidak dilakukan?

Kembali lagi pada manajemen kekuatan tenaga pendidikan. Itu kalau tentang penyebarannya. Saya juga menginginkan dari gurunya sendiri, jangan bersikap menunggu, melainkan mengejar bola. Tidak hanya mengajar lalu pulang. Seharusnya bisa mengadakan penelitian dan membaca buku. Banyak lo, guru yang seperti itu.

Soal gaji guru yang rendah, apakah akibat manajamen yang buruk?

Ya. Kita juga harus melihat bahwa gaji guru itu harus dibandingkan dengan yang lain. Saya mau kasih tahu, gaji guru itu jauh lebih kecil daripada sopir di satu perusahaan internasional. Di sebuah sekolah ada seorang sopir yang menyekolahkan anaknya. Sopir ini menyumbang uang ke sekolah. Padahal secara intelektual kan sopir jauh di bawah guru. Namun, secara ekonomi belum tentu. Jadi, karena hal itu, orang menjadi kesal, menjadi sakit hati. Tapi saya selalu mengatakan, kalau tidak berani jadi guru, jangan menjadi guru. Guru itu bukan tempat untuk mencari uang.

Apakah buruknya manajemen disebabkan oleh anggaran pendidikan yang sedikit?

Memang seharusnya 20 persen dari anggaran untuk pendidikan, tapi baru bisa dilaksanakan pada 2009. Saya ingin Indonesia menjadi negara yang memasukkan pendidikan dalam anggaran. Negara lain belum ada yang seperti kita. Indonesia memang berani, tapi dalam pelaksanaannya saya mohon bersabarlah.

Kalau tidak ada anggaran pendidikan, mengapa mereka bisa lebih maju? Malaysia, misalnya?

Jangan lupa, pemerintah Malaysia punya komitmen terhadap dunia pendidikan karena pemerintahnya bersih, sehingga bisa punya komitmen.

Riset menunjukkan indeks prestasi manusia Indonesia lebih rendah dibanding negara lain di Asia Tenggara. Apakah ini karena mutu pendidikan kita buruk?

Ini terkait dengan manajemen bangsa, bukan hanya pendidikan. Pendidikan tidak berdiri sendiri, tapi juga dipengaruhi hal lainnya. Pembangunan ekonomi kita, misalnya, tidak sama dengan Vietnam. Begitu juga dengan mutu sumber daya manusianya. Bandingkan dengan Korea, misalnya. Kalau kita tidak terlalu banyak mengimpor tapi mengekspor, misalnya, saya yakin Indonesia akan bangkit sedikit demi sedikit. Kalau mutu pendidikan buruk, itu karena mutu ekonomi, politik, dan manajemen bangsa yang buruk.

Selain indeks prestasi manusia, mengapa universitas kita tidak ada yang masuk dalam jajaran universitas top dunia?

Yang dinilai di sana adalah jumlah penelitian, bukan jumlah sarjana. Juga jumlah profesor yang berkiprah di tingkat internasional. Memang ada jurusan-jurusan tertentu yang dosen-dosennya rajin melakukan penelitian. Kalau sekarang baru sebatas titel dan toga sarjana yang banyak. Ketika mahasiswa keluar dari bangku kuliah, tidak ada pekerjaan.

Apakah kurikulum pendidikan kita tidak menyiapkan mereka menjadi sarjana siap kerja?

Sebetulnya untuk sarjana jangan mencari pekerjaan, tapi menciptakan pekerjaan. Itulah sebabnya orang seharusnya divergen, menyebarkan sesuatu. Tapi masalahnya, anak-anak hidup dalam dunia seperti itu. Mereka melihat orang tua mereka bekerja sebagai pegawai. Hanya menunggu gaji. Di sisi lain, juga harus ada pemetaan yang link and match. Karena sarjana hukum sudah banyak, misalnya, tidak perlu lagi mencetak yang baru. Harus ada hubungan dunia pendidikan dengan dunia kerja dan dunia dagang.

Dengan berbagai masalah yang dihadapi para guru, apakah saat ini masih ada anak muda yang mau menjadi guru?

Di Jakarta banyak yang tidak mau. Coba saja pergi ke sekolah-sekolah unggulan, berapa banyak yang ingin jadi guru. Paling hanya dua-tiga orang. Itu pun karena daripada tidak jadi apa-apa. Bagaimana orang mau jadi guru kalau mereka melihat guru itu terseok-seok.

BIODATA Nama: Arief Rachman Lahir: Malang, 19 Juni 1942 Istri: Haryati Suwardi Anak: Laila Alia Arief Rachman Rahadi Arief Rachman Deva Arief Rachman Pendidikan: 1970: Sarjana dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta, Fakultas Bahasa Inggris 1984: Magister Ilmu Pendidikan dari Pascasarjana Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta 1997: Doktor Pendidikan dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta Karier: 1964-sekarang: Dosen Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Jakarta 1979-sekarang: Dosen luar biasa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia 2001-sekarang: Ketua Harian Nasional Indonesia untuk UNESCO 2003-sekarang: Board Executive UNESCO Paris, Prancis Penghargaan: 1982: Dosen teladan IKIP Jakarta 1995: Pemandu acara televisi swasta berbahasa Indonesia terbaik.

(source: http://www.korantempo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: