PSKD MANDIRI TEACHERS’ NOTE

Education for the future

Deteksi Dini Autisme

Posted by teachersnote on November 23, 2008

autismissues
Recognizing Autistic Tendencies
Autis bisa diketahui saat anak berusia 18-36 bulan.
Meski telah menikah belasan tahun, perempuan berkebangsaan Singapura ini tak menyadari keganjilan suaminya. Suaminya–dosen berotak encer di sebuah universitas negeri jiran–tak suka bersosialisasi. Sebelum ia hadir dalam pesta-pesta kampus di London, tempat suami-istri itu menimba ilmu, sang istri harus mengajarkan cara berkenalan dengan orang lain.

“Bila bersalaman, suami saya tak pernah fokus, bahkan ia malah melihat ke arah lain sehingga sering membuat orang lain tersinggung,” kata perempuan itu pada Dokter Lucy Pou, pakar autisme Singapura, yang juga rekan kuliahnya di London. Namun, banyak orang dapat memaklumi sikap aneh pak dosen sebagai satu paket dengan kecerdasannya.

Kesadarannya soal autis baru muncul ketika anaknya mengalami masalah serupa. Karena khawatir, sang ibu membawa anaknya kepada seorang dokter spesialis. Saat dokter menyebutkan gejala-gejala autis yang diidap anaknya. Perempuan itu sadar bahwa selama ini suaminya juga mengidap autis, meski dalam stadium ringan.

Sebegitu sulitkah mendeteksi autis sejak dini? Profesor Ho Lai Yun, pendiri Departemen Kedokteran Neonatal dan Perkembangan rumah sakit Singapura, mengatakan, kajian yang ada memperlihatkan bahwa diagnosis autisme yang tepat baru bisa dilakukan setelah anak berusia 2-3 tahun. “Ada bukti kuat bahwa diagnosis yang dapat diandalkan baru bisa dilakukan pada usia 18-36 bulan,” kata Ho dalam konferensi mengenai Autisme, Sabtu (13/8) di Hotel Nikko, Jakarta.

Karakteristik penyandang autis secara umum, menurut Ho, yang memangku jabatan pembantu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Singapura ini, terdiri atas ketidakmampuan bersosialisasi, minimnya kemampuan berbahasa, serta obsesi terhadap rutinitas kegiatan. Biasanya tanda-tanda ini dimulai sebelum anak berusia 36 bulan.

Ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial, kata Ho, ditunjukkan dalam beberapa hal. Misalnya, anak tidak memiliki empati terhadap orang lain, bahkan memandang orang lain sebagai benda, tidak mau melakukan kontak mata dengan orang lain, dan tak peduli terhadap orang lain, kecuali orang yang merawatnya.

Selain itu, anak ini menunjukkan bahasa tubuh yang kaku, semisal tidak suka tersenyum dan tak ingin berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi hanya terbatas pada ungkapan sederhana untuk memenuhi kebutuhannya. “Bila lapar, ia hanya mengambil makanan yang ia suka tanpa mengatakan sepatah kata pun,” ujarnya.

Para penyandang autis juga memiliki satu kelemahan utama yang bisa dideteksi, mereka tak bisa berimajinasi! Jangankan meniru sikap orang lain, seperti melambaikan tangan saat berpisah dengan orang lain, anak-anak pengidap autis pun tak tahu bagaimana caranya bermain.

Perilaku khas anak autis yang lain terlihat dari minat dan obsesi mereka terhadap pola-pola rutin dalam kegiatan sehari-hari. “Mereka suka sekali pada rutinitas. Mereka akan sangat frustrasi bila kebiasaannya berubah, bahkan pada perubahan kecil, seperti perubahan jenis makanan yang mereka makan sehari-hari,” ungkap mantan konsultan pencegahan penganiayaan anak untuk Badan Kesehatan Dunia itu.

Anak autis, kata Ho, biasanya tidak memainkan mainan sebagaimana anak normal. Mereka biasanya hanya tertarik pada salah satu bagian dari mainan itu. Misalnya, bila anak normal bermain mobil-mobilan, anak autis hanya bermain dengan rodanya, dan hal ini dilakukan terus-menerus dalam waktu yang lama. Bahkan anak autis bisa menonton film yang sama lebih dari 10 kali tanpa merasa bosan.

Namun, di antara semua kelemahan yang disandang anak autis, ada satu kelemahan yang juga menjadi kekuatan mereka, yakni kemampuan rekam visual yang luar biasa. “Bila Anda memanggil mereka, bisa jadi mereka seperti anak tunarungu yang tak mendengar apa pun. Namun, mereka mampu menghafal secara visual apa pun yang mereka lihat,” papar Ho.

Mengapa hal ini menjadi kelemahan juga? Sebab, saat Anda ingin mengajarkan anak autis konsep-konsep pembelajaran awal, seperti berhitung melalui bentuk dan gambar, bisa jadi mereka hanya menghafalkan gambar dan bentuk itu. “Daya rekam visual mereka seperti kamera foto,” ujarnya.

Satu hal yang penting, bila Anda memiliki anak lelaki di bawah umur tiga tahun dan menunjukkan keterlambatan kemampuan berbicara, Anda perlu waspada. Sebab, berdasarkan data Ho, rasio anak lelaki terkena autis empat kali lebih besar ketimbang anak perempuan. SITA PLANASARI A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: